Realita Pendidikan di Pelosok Negeri

rendiansyah

Oleh : RENDIANSYAH DWI S

(Mahasiswa Pendidikan Matematika FPMIPA UPI)

 

INDONESIA adalah negara yang sangat luas wilayahnya yang terdiri atas puluhan provinsi hingga pulau pulau yang membentuk gugus kepulauan yang menjadi ciri khas dari negara ini. Kepulauan nusantara yang terbentang dalam keberagaman wilayah geografis menjadikan Indonesia kaya akan berbagai hal, baik sumber daya alam, bahasa, ataupun budaya. Namun disisi lain, kelebihan tersebut mampu menjadi permasalahan kompleks apabila tidak dapat disikapi atau dikelola dengan bijak oleh berbagai pihak negeri ini. Dalam satu negara ada beberapa aspek penting yang salah satunya adalah pendidikan di negara tersebut. Beberapa hari yang lalu kita baru memeringati Hari Pendidikan Nasional tepat pada tanggal 2 mei. Tetapi bagaimana kabar pendidikan di Indonesia ?

Banyak sekali perbedaan yang sangat kontras di dunia pendidikan daerah perkotaan dengan yang daerah terpencil. Jika dalam satu daerah tertentu pendidikannya sangat maju dan terfasilitasi apa pendidikan Indonesia bisa disebut maju? sedangkan masih banyak sekali daerah yang tertinggal di aspek pendidikannya.

Sebuah film yang berjudul “Laskar Pelangi” adaptasi dari novel karya Andrea Hirata menjadi sebuah contoh realita pendidikan  di pelosok Indonesia. Pada film ini diceritakan sebuah perkampungan di Bangka Belitung yang masih terpelosok dan terbatasnya sarana prasarana pendidikan khususnya bagi kaum marginal di daerah tersebut. Contoh dalam film ini menjadi sebuah tolak ukur dan sample dari sebagian kondisi lain yang sama naasnya. Selain itu banyak pula contoh sejenis yang juga sudah terekspos media. Permasalahan pendidikan pada kasus yang sudah terekspos itu rata-rata mengalami keterbatasan dalam sarana prasana atau akses yang menjadi dasar penting munculnya suatu sistem pendidikan.

realita pendidikan 1

Masih banyak yang peduli dengan pendidikan di negeri kita para pejuang pendidikan pahlawan tanpa tanda jasa yang tak kenal lelah untuk memberikan ilmu kepada peserta didiknya. Apakah pantas para peserta didik yang memiliki semangat membara untuk menimba ilmu mendapatkan fasilitas yang minim ? seperti gedung sekolah yang sudah tidak layak hingga memiliki ancaman kehilangan nyawanya dan ruangan yang sangat terbatas. Terkadang mereka yang kurang beruntung terpaksa tidak bersekolah dikarenakan cuaca hujan yang mengakibatkan ruang kelas untuk belajar yang sudah bocor dimana mana bahkan ada yang ruangannya tidak memiliki atap yang sudah pasti tidak kondusif untuk dipergunakan sebagai ruang kelas. Memang pemerintah telah mewajibkan pendidikan selama 9 tahun di Indonesia tapi apakah bisa optimal dengan keadaan seperti ini? siapa yang harus berbuat dan siapa yang harus disalahkan? selain itu bagaimana pengajar pengajar di daerah yang disebut terpencil itu?

Pemerataan pendidikan di negara ini sangat diperlukan dilihat dari satu sisi pendidikan di perkotaan besar seperti di ibu kota yang telah memiliki fasilitas sarana prasarana pendidikan yang sangat lengkap yang sangat berbeda jauh dengan fasilitas yang diterima oleh peserta didik di daerah terpencil atau tertinggal. Pemusatan metropolitas suatu daerah tersebut serta adanya ketertinggalan di daerah lain, dapat dijadikan sebuah contoh permasalahan. Ketidakmerataan itu memberikan banyak perbedaan kondisi pada masing-masing daerah, sehingga ketersediaan sarana prasarana kehidupan masyarakat di daerah tertinggal belum terpenuhi secara optimal. Sayangnya, keterbatasan sarana prasarana tersebut termasuk pula dalam bidang pendidikan yang menjadi cikal bakal kemajuan bangsa. Pada realitasnya pendidikan Indonesia memang belum merata. Kondisi geografis pun menjadi salah satu faktor penyebab yang menjadikan sebagian daerah di Indonesia tertinggal oleh laju pembangunan dan belum tersentuh pendidikan secara layak.

realita pendidikan 2

Pihak pemerintah yang memang bertanggung jawab atas peningkatan kehidupan diseluruh wilayah nusantara nyatanya telah melakukan upaya-upaya terkait hal tersebut meskipun mungkin belum dapat dikatakan maksimal. Selain usaha pemerintah, banyak pula pihak yang turut berkontribusi untuk mengabdi pada masyarakat negeri ini. Pihak yang turut ikut serta seperti tenaga-tenaga ahli yang menjadi relawan di dearah-daerah pedalaman, program KKN mahasiswa, dll. Lebih khususnya lagi dalam bidang pendidikan program yang telah ada salah satu contohnya adalah program Indonesia Mengajar. Berbagai program peningkatan mutu hidup masyarakat lokal memang telah dilakukan, namun masih butuh perbaikan dan ekspansi daerah sasaran agar tercapainya Indonesia yang berdaulat. Kedaulatan tersebut bukan hanya terlepas dari belenggu penjajah namun harus mampu terlepas dari belenggu permasalahan dalam negeri terlebih dalam sektor pendidikan.

Program relawan yang akan memberikan pendidikan di daerah terpencil harus memulai program tersebut yang menempatkan warga komunitas setempat sebagai objek. Kemudian untuk seterusnya barulah mempertimbangkan sistem yang lebih demokratis. Demokratisasi ini dapat dilakukan dengan mendengarkan keluhan warga tentang sarana kehidupan sekitar, apa keinginan warga terhadap kebutuhannya, serta memotivasi warga untuk dapat lebih pro aktif secara swadaya menciptakan pembangunan dengan keterlibatan dari segala pihak untuk memfasilitasi pelaksanaan program.

This entry was posted on Monday, May 6th, 2013 at 02:55 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

Comments are closed.