Kurikulum 2013 (Tidak Perlu) Digugat Lagi?

1

Oleh HILMAN RASYID

(Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab,  Pegiat Pendidikan, FPBS Universitas Pendidikan Indonesia)

HINGGA bulan April pro dan kontra masih menghinggap pada kebijakan kurikulum 2013. Kurikulum ini masih terus dipertanyakan makna dan validitasnya bagaikan seorang calon sarjana yang sedang disidang mengenai hasil skripsinya sebelum ia terjun ke lapangan berstatus sarjana. Namun berbeda dengan pihak pemerintah yang nampaknya maju terus pantang mundur. Hal ini terlihat dari salah satu ungkapan optimisme Mendikbud Mohammad Nuh yang menyebutkan bahwa kurikulum 2013 itu “ganteng” (okezone.com, 02/04/2013).

Semua orang boleh berwacana bahkan menggugat. Resah dan gelisah terhadap kebijakan publik khususnya pendidikan yang tidak sesuai dengan keinginan. Kecewa terhadap kurikulum 2013 yang sedang menjalani sosialisasi dan implementasi. Penerapan kurikulum baru ini bisa dibilang sudah mencapai pada titik akhir implementasi. Bagaikan bubur yang sudah siap disajikan untuk dimakan. Namun kenapa kurikulum 2013 ini masih digugat saja?

Sebenarnya penulis sedikit kecewa terhadap ucapan pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Lody Paat yang yakin bahwa kurikulum 2013 ini akan gagal bahkan dinilainya sebagai pembodohan (okezone.com, 15/02/2013). Justifikasi seperti inilah yang justru akan berakibat negatif bahkan fatal pada kepercayaan para guru dan murid di Indonesia terhadap kurikulum 2013 ini. Alangkah lebih baiknya kita mengkitisi kurikulum baru ini dengan bijak, objektif, dan solutif tanpa mengedepankan emosi yang membabi buta serta penilaian yang belum pantas diungkapkan.

Yang harus kita soroti dan kritisi hari ini adalah terkait proses sosialisasi dan implementasi kurikulum 2013 tersebut. Termasuk langkah monitoring pihak pemerintah terhadap kurikulum dan sekolah yang harus dilakukan secara galak dan merata. Penyiapan buku teks, pelatihan professionalisme guru, dan monitoring oleh pihak pemerintah-lah yang harus kita perhatikan. Karena kita sudah tidak ada daya lagi untuk menggugat perencanaan atau struktur kurikulum 2013 tersebut.

Minimalnya ada 4 (empat) hal yang harus kita soroti dan kritisi karena pasalnya keempat hal ini menjadi bagian dari faktor keberhasilan sebuah kurikulum. Pertama, pemerintah harus terus menggalakkan sosialisasi kurikulum 2013 ini secara matang dan merata. Sehingga tidak ada lagi guru yang masih meraba-raba isi kurikulum 2013 tersebut karena minimnya informasi yang mereka peroleh.

Kedua, mengenai peningkatan dan pemerataan professionalisme guru. Guru sebagai aktor utama atau ujung tombak penerapan kurikulum mau tidak mau harus siap untuk membaca dan memahami kurikulum 2013 tersebut. Karena sebagus dan seideal apa pun sebuah kurikulum tentu tidak akan pernah berhasil jika tidak dipahami dulu dengan benar oleh para guru di seluruh sekolah.

Sehingga pelatihan atau penyiapan guru harus selalu digalakkan demi tercapainya peningkatan professionalisme guru terutama menyangkut strategi dan metodologi penerapan kurikulum baru tersebut. Namun sepertinya hari ini guru juga harus dilatih untuk menguasai teknologi atau internet. Karena hal ini bisa meningkatkan inovasi guru yang masih sangat lemah yaitu hanya sekitar 2% dari 5,6 juta guru di Indonesia (okezone.com, 18/03/2013). Perlu diingat bahwa pelatihan atau penyiapan guru harus dilakukan secara merata sampai ke para guru di pelosok daerah Indonesia secara optimal.

Ketiga, mengenai buku teks sebagai sumber belajar dan bahan ajar. Dalam proses belajar mengajar di sekolah, buku teks dapat menjadi pegangan guru dan murid yaitu sebagai referensi utama atau menjadi buku suplemen. Meskipun pihak pemerintah sedang sibuk mencetak dan menyebarkan buku secara gratis, namun peran guru yang terpenting adalah melakukan telaah terhadap buku teks tersebut terlebih dulu sebelum buku tersebut dijadikan referensi utama.

Buku teks tidak hanya perlu ditelaah dari segi nilainya, tetapi juga ditelaah dari jangkauan materi pelajarannya. Hal ini tiada lain untuk memperoleh kualitas buku teks yang bermutu dan menghindari buku teks dari materi dan nilai yang tidak cocok untuk diajarkan. Sehingga guru mau tidak mau harus membaca, memahami, dan menelaah buku teks tersebut terlebih dulu secara cermat sebelum terjadi dampak yang sangat fatal terhadap para muridnya.

Keempat, mengenai pembinaan dan pengawasan pihak pemerintah terhadap sekolah. Hal inilah yang sering dilupakan bahkan diacuhan oleh pemerintah. Mereka terlalu sibuk dan fokus mengurusi mutu sekolah di sumbu kekuasaan yang sudah terlihat mewah dan melupakan berbagai sekolah yang sangat jauh dari pusat. Sehingga hal ini harus dilakukan secara merata dan optimal hingga ke penjuru daerah. Pembinaan dan pengawasan ini bisa berbentuk apapun baik itu mengenai infrastruktur, pendanaan, monitoring guru dan murid ataupun yang lainnya demi tercapainya kelancaran sebuah proses pendidikan.

Oleh karena itu, mari kita kawal dan kritisi bersama-sama perjalanan kurikulum 2013 ini dengan bijak dan objektif. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mempunyai kurikulum yang ideal dan stabil serta mampu memberikan suplemen pada siswanya untuk bisa meningkatkan standar mutu pendidikannya di masa yang akan datang. Bravo Pendidikan Indonesia!

This entry was posted on Saturday, April 20th, 2013 at 11:45 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

Comments are closed.